Anakku berhati lembut
Santai-santai bersepeda motor sehabis membelikan baju koko untuk anakku yang besok mau ada kegiatan Training Islam. Persis di depan kuburan Sekardangan, sebuah mobil KIjang warna putih tampak kebingungan antara maju atau mundur. Dari belakangnya saya bunyikan klakson karena berhentinya tepat di tengah jalan. Aku, istri dan Rara-ku sempat bertanya-tanya kenapa mobol ini berhenti di tengah jalan.
Untuk mempercepat sampai di rumah, aku dahului mobil itu dari arah kiri dan menyaksikan apa yang menyebebkan mobil itu maju mundur dengan lampu sign berkedip-kedip kiri kanan.
Spontan anakku menjerit menyaksikan seekor kucing tergeletak berdarah-darah di kepalanya. MEnangislah ia sesenggukan serasa tidak tega menyaksikannya. “Kasiihhannn …. ” rintihnya tak henti, bahkan sebenarnya kami sudah lebih dari setengah kilometer meninggalkan tempat kejadian kucing ketabrak tadi.
Begitulah Rara anakku, hatinya lembut banget, persis kesehariannya yang suka menolong orang lain, bahkan dengan binatang. Kelembutannya membuat kami sebagai orangtua kadang tidak tahu harus berbuat apa ketika sebenarnya kami harus memarahinya karena perilakunya yang kurang pas. Dibalik kelembutannya memperlakukan kucing, menyayanginya, mengelusnya bahkan mengajaknya tidur, sejujurnya kami juga harus berkeras agar ia tak terlalu dekat dengan kucing. Efek negatif yang pernah kami baca, kurang baik bagi anakku, selembut papapun hatinya.
Mudah2an anakku dapat memanfaatkan kelembutan hatinya untuk hal yang positif dan tidak membahayakan kehidupannya sendiri …
Posted on 29/10/2010, in Kiriman Sahabat. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

Jangan gitu dong, aku kan sudah berusaha mempercantik diri. Tapi ayahku memang betul, aku nggak boleh dekat2 soalnya pernah batuk2 gara2 bulu kelinci. Lha kucing kan masih sejenis dengan kelinci…. jadi penyakitnya hampir sama
pakde ini ays,mbak rara cantik di fotonya
Lebih cantik mana dibanding kucingnya ??
kucingnya